Bangsa Tanpa Kedaulatan Pangan
Melesatnya harga bahan kebutuhan pokok telah memaksa pemerintah mengingkari komitmen berhemat anggaran subsidi.Sebuah paket kebijakan ekonomi bertujuan menstabilkan kejolak kenaikan harga bahan pangan senilai Rp 13,2 triliun diluncurkan,termasuk didalamnya penurunan bea masuk beras dari Rp 550 menjadi Rp 450 per kg serta pembebasan bea masuk kedelai dan terigu.
Penurunan dan bahkan pembebasan bea masuk produk dan pertanian primer pada saat harga internasional menggila memang dapat membantu meringankan beban konsumen,khususnya yang berasal dari kelompok miskin.Kegiatan pengolahan mekanan dan minuman berbasis usaha kecil dan rumah tangga pasti terbantu dengan harga produk inpor yang tiba-tiba menjadi lebih murah ketika tidak dikenakan bea masuk.
Keberadaan Indonesia sebagai net importer sejumlah komoditas pertanian praktis menjadikan perubahan harga sekecil apapu pada lingkungan strategis berdampak signifikan terhadap terbentuknya harga riil di pasar domestic.tanpa disadari,petani kecil telah masuk perangkap liberalisasi dan globalisasi perdagangan dengan tanpa persiapan.
Tragisnya,banyak diantara pemikir ekonomi dan perancang kebijakan terkecoh prodok inpor murah dari pada harus memproduksinya sendiri,tetapi tidak berdaya saing kuat.seolah tidak peduli liberalisasi perdagangan sendiri bukanlah jalan terbaik menuju kemaslahatan manusia sejagat
Idealisme dan praktik liberalasasi begitu kontras.negara-negara industri maju selalu mendiktekan kemauannya agar Negara-negara berkembang dan miskin mengadopsi dokrin merkantilisme ini secara mentah-mentah,sementara liberalisasi sendiri syarat kepentingan,distorsi,dan praktik tidak fail.
Negara-negara berkembang diminta membuka akses pasar lebar bener dengan menghilangkan berbagai hambatan masuk (barrier to entry) untuk produk Negara lain,baik melalui tariff maupun nontarif. Apa yang dilakukan Negara-negara industri maju sebenarnya tak lebih dari upaya menjadikan negar-negara berkembang tempat pembuangan sampah bagi produk yang mereka hasilkan karena pasar sudah jenuh.
Kamis, 17 April 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar